Rohis SMAN 52 Jakarta <data:blog.pageName/> - <data:blog.title/>
Rohis SMAN 52 Jakarta |---- TEGAS (Tangguh, Edukatif, Ghiroh, Aktif & Sukses) ----|

Punya Artikel atau Software Islami untuk di publish di internet ??? kirim ke aktivisdakwah52@gmail.com (kami akan sertakan sumbernya)
Tukar Link dengan Rohis SMAN 52 Jakarta
Tampilkan postingan dengan label Akhlak Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlak Islami. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 April 2012

Tentang Fitnah Dunia

Share

بسم الله الرحمن الرحيم

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

« إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِى إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِى النِّسَاءِ »
"Sesungguhnya dunia ini manis lagi hijau (indah), dan sesungguhnya Allah  menjadikan kamu pengelolanya. Dia akan melihat apa yang kamu kerjakan, maka berhati-hatilah kamu terhadap dunia dan berhati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah yang pertama kali menimpa bani Israil adalah karena wanita."  (HR. Muslim)

Jika anda sering berjalan-jalan, terutama ke dataran tinggi dan pegunungan, tentu anda akan melihat lebih jelas indahnya dunia. Bumi yang kita tempati ini penuh dengan keindahan dan hal yang sangat menarik. Di sana ada pemandangan yang indah, ada sungai-sungai, ada air terjun, ada pepohonan yang lebat, udara yang sejuk, gunung-gunung yang tinggi dan lain-lain. Melihat pemandangan yang indah dan menyenangkan itu, pernah terlintas dalam hati saya -mungkin juga anda- keinginan untuk membangun rumah di tempat yang indah tersebut; tinggal bersama keluarga. Saya ingin pergi ke kota untuk bekerja agar dapat mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya yang kemudian dapat saya gunakan untuk membangun rumah di tempat yang indah tersebut. Namun saya berfikir dan berfikir lagi, jika saya melakukannya apakah saya akan hidup kekal di sana dan aman dari mara bahaya, kemudian bagaimana nantinya saya mencari rizki? Belum lagi dengan sarana-sarana yang kurang lengkap tidak seperti di kota. Sadarlah saya bahwa kesenangan dunia tidak sempurna; ada hidup dan ada mati, ada muda dan ada tua, ada senang dan ada sedih, ada sehat dan ada sakit, ada rasa aman dan rasa takut serta keterbatasan lainnya. Lebih dari itu, untuk memperoleh kesenangan dunia harus diraih dengan kerja keras dan usaha.
Kemudian saya membandingkan keadaan dunia dengan akhirat; yakni surga, ternyata jauh berbeda. Saya mendapatkan dalam Al Qur'an dan As Sunnah tentang kenikmatan yang diperoleh penghuni surga, ternyata benar-benar sempurna. Pemandangannya yang indah sampai tidak terbayangkan oleh hati, belum pernah dilihat oleh mata dan belum pernah didengar oleh telinga. Penghuninya kekal dan tidak akan mati, mereka tetap muda dan tidak akan tua, mereka bersaudara tidak bermusuh-musuhan, mereka tetap senang dan tidak pernah sedih, mereka tetap sehat dan tidak pernah sakit, mereka senantiasa memperoleh keamanan dan tidak pernah tertimpa rasa takut dan kekhawatiran. Apa yang mereka inginkan ada di hadapan tanpa perlu bekerja keras dan berusaha, belum lagi dengan makanan dan minuman enak yang dihidangkan, bidadari yang bermata jeli dan kesenangan lainnya yang amat sempurna. Tentunya hal ini diperuntukkan bagi mereka yang beriman dan beramal shalih ketika di dunia. Mudah-mudahan kita semua dimasukkan Allah ke dalam surga, aamiin yaa Rabbal 'aalamiin.Saudaraku, kesenangan seperti inilah kesenangan yang sesungguhnya dan kenikmatan yang pantas untuk dikejar.

"Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba." (Terj. Al Muthaffifin: 26)

Namun sangat disayangkan, sedikit sekali di antara kita yang mengejarnya, bahkan kebanyakan dari kita lebih rela mengejar kesenangan dunia yang fana' ini, meninggalkan negeri yang kekal abadi.

"Tetapi kamu  memilih kehidupan duniawi.--- Padahal kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal." (Terj. Al A'laa: 16-17)

Tidak perlu jauh-jauh untuk membuktikannya, cobalah kita keluar rumah dan memperhatikan orang-orang di sekitar kita –bahkan mungkin diri kita seperti itu-, kita akan menyaksikan bahwa yang ada di benak mereka pada umumnya adalah cita-cita agar mereka bisa hidup enak di dunia ini, tanpa berpikir lagi tentang akhirat; mau bahagia atau tidak, yang penting bisa hidup enak di dunia. Mereka  rela memeras akal dan pikiran serta membanting tulang sejak bangun tidur hingga tidur kembali hanya bertujuan untuk memperoleh kesenangan yang sesaat ini; itu pun jika dapat dan maut belum datang. Lebih dari itu, mereka tidak menyisakan sedikit pun waktunya untuk akhirat walau beberapa menit, untuk beribadah, untuk shalat berjama'ah, untuk menambah dengan amalan sunat, untuk membaca Al Qur'an, untuk berdzikr, untuk bersedekah, untuk berbakti kepada orang tua, untuk menyambung tali silaturrahim dan mengerjakan ibadah lainnya. Seruan azan ibarat angin yang berlalu, ucapan hayya 'alash shalaah-hayya 'alal falah (marilah kita shalat-marilah menuju kebahagiaan) masuk ke telinga kanan dan keluar lewat telinga kiri. Saya tidak mengetahui, mengapa mereka seperti ini, masjid-masjid yang ada menjadi sepi, kalau pun ada hanya beberapa orang saja. Entah mengapa mereka tidak menyadari bahwa hidup di dunia hanya sementara. Padahal adakah manusia yang hidup selamanya di dunia ini? Kalau pun ada manusia yang diberi umur yang panjang, cobalah perhatikan akhirnya, ia akan tetap meninggal juga,

"Sesungguhnya kamu akan mati dan Sesungguhnya mereka akan mati (pula)." (Az Zumar: 30)

 Jika demikian, apa persiapan yang sudah kita lakukan menghadapi kematian yang sudah pasti, yang tidak melihat keadaan orang yang dijemputnya; masih muda atau sudah tua, sehat atau sakit, kaya atau miskin?

"Di mana saja kamu berada, kematian akan menjemput kamu, meskipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh." (Terj. An Nisaa': 78)
Apakah harta-benda yang kita persiapkan menghadapi kematian, padahal ia tidak akan ikut ke dalam kubur. Apakah keluarga yang kita persiapkan, padahal keluarga tidak mendampingi kita di alam kubur ataukah amal? Ya, amal itulah yang mendampingi kita di dalam kubur.

Rasulullah shallalllahu 'alaihi wa sallam bersabda:
يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِى مَالِى - قَالَ - وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ
“Anak Adam akan berkata, “Hartaku, hartaku”, lalu dikatakan, “Hai anak Adam, bukankah harta yang kamu miliki itu sudah kamu makan lalu habis atau kamu pakai lalu rusak dan yang kamu sedekahkan, itulah yang kamu bawa.” (HR. Muslim)

Memang tidak mengapa bekerja keras untuk meraih kehidupan yang layak di dunia, namun yang jadi masalah adalah jika berlebihan sampai tidak menyisakan waktu untuk akhirat, dan seperti inilah kenyataan yang saya lihat. Saya sangat sedih ketika melihat mereka yang miskin dan hidup dalam kekurangan, kemudian ditambah dengan meninggalkan shalat, penghasilan mereka dalam sehari tidak seberapa namun anehnya berani meninggalkan shalat. Padahal apa lagi yang bisa diharap jika seseorang sudah meninggalkan shalat –selain tobat-?! Saya khawatir -bukan bermaksud memvonis- mereka tergolong orang yang sengsara dunia-akhirat atau diistilahkan dengan "sudah jatuh tertimpa tangga"; –hadaanallah wa iyyahum ajma'iin-. Dalam Al Qur'an disebutkan:

"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?"---Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, (Terj. Al Muddatstsir: 42-43)

Saudaraku, dunia merupakan tempat beramal; ia adalah kesempatan terakhir yang setelahnya bukan kesempatan, yang ada hanyalah balasan terhadap amal yang dikerjakan.
Saudaraku, dunia merupakan jembatan menuju akhirat, keadaan kita di akhirat tergantung keadaan kita di dunia, barang siapa yang beramal salih ketika di dunia maka ia akan beruntung di akhirat dan barang siapa yang malah mengisi hidupnya dengan kemaksiatan, maka ia akan merasakan kerugian dan penyesalan di akhirat. Ketika itu, penyesalan tidak berguna lagi. Ketika itu, memperbaiki diri tidak berguna lagi, yang ada hanyalah nikmat atau azab,

….Di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (Terj. Al Hadiid: 20)

Inginkah Anda pulang ke akhirat mendapatkan nikmat atau anda lebih memilih siksa daripada nikmat! Itu terserah Anda, saya hanya bisa mengingatkan.
Saudaraku, mumpung anda masih diberi kesempatan hidup oleh Allah, maka perbaikilah dirimu sekarang juga. Al Fudhail pernah berkata kepada seseorang: "Sudah berapa lama kamu menjalani hidup?" ia menjawab: "Enam puluh tahun." Fudhail berkata: "Sudah enam puluh tahun anda mengadakan perjalanan menuju Tuhanmu, dan sebentar lagi kamu akan sampai", orang itu berkata: "Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun", Fudhail berkata: "Tahukah anda maksud ucapan "Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun"? sesungguhnya barangsiapa yang mengetahui bahwa dirinya adalah hamba Allah dan akan kembali kepada-Nya, maka hendaknya ia meyakini bahwa dirinya akan dihadapkan. Siapa saja yang meyakini bahwa dirinya akan dihadapkan, maka hendaknya ia mengetahui bahwa dirinya akan ditanya, maka persiapkanlah jawaban terhadap pertanyaan itu." Orang itu pun bertanya, "Lalu bagaimana jalan keluarnya?" Fudhail menjawab: "Mudah" orang itu bertanya: "Apa itu?" Fudhail menjawab: "Kamu perbaiki amalmu sekarang, niscaya amalmu di masa lalu akan diampuni. Hal itu, karena jika kamu malah memperburuk amalmu di masa sekarang, maka kamu akan diberi hukuman berdasarkan amal burukmu yang dahulu dan yang sekarang, dan amalan yang diperhatikan adalah amalan di akhir hayatnyaan amalan yang diperhatikan adalah akhirnya."nya raaji'uun"."

Fitnah Dunia
Saudaraku, hidup di dunia penuh dengan godaan. Godaan dunia ibarat sebuah arus yang deras, yang membawa pergi dan menghanyutkan apa saja yang ada di hadapan. Kemudian tahukah kamu, ke arah mana arus itu membawa pergi? Jurang; ke sanalah arahnya. Tetapi wahai saudaraku, jurang ini bukanlah jurang yang ringan. Ia adalah jurang yang paling dalam dan di bawahnya terdapat api yang membakar, itulah jurang neraka –wal 'iyaadz billah-. Oleh karena itu, Nabi kita shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan agar kita tetap waspada terhadap godaan dunia yang sangat menyilaukan, demikian juga mengingatkan kita agar berhati-hati terhadap godaan wanita. Belum lagi dengan godaan syubhat yang dicetuskan oleh Iblis, banyak amal yang menjadi sia-sia karena syubhat yang disodorkannya; ia tunjukkan kepada manusia sesuatu yang nampaknya baik, padahal tidak ada kebaikan di dalamnya. Inilah rahasia mengapa Allah mewajibkan membaca surat Al Fatihah di dalam shalat di setiap rak'at, karena butuhnya kita terhadap hidayah dan taufiq-Nya dalam meniti hidup yang penuh cobaan dan godaan ini di samping keadaan hati yang lemah mudah berbalik.
Saudaraku, shalat merupakan pegangan yang paling kuat agar seseorang tidak terbawa oleh arus fitnah (godaan) yang begitu deras.
Tidakkah anda memperhatikan, bahwa dalam surat Al Fatihah terdapat ayat yang berbunyi "Ihdinash shiraathal mustaqiim", di sana Anda meminta kepada Allah agar ditunjukkan mana jalan yang lurus, meminta juga kepada-Nya agar dibantu menempuh jalan yang lurus itu serta meminta kepada-Nya agar dapat beristiqamah di atasnya hingga akhir hayat. Maka beruntunglah mereka yang tetap mendirikan shalat, karena mereka masih memiliki pegangan, mereka masih memiliki hubungan dengan Allah Ta'ala Sang Pencipta. 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَتْرُكْ صَلاَةً مَكْتُوْبَةً مُتَعَمِّدًا فَمَنْ تَرَكَهَا مُتَعَمِّدًا فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُ الذِّمَّةُ
"Janganlah kamu meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja. Barang siapa yang meninggalkannya dengan sengaja, maka hubungannya telah lepas." (Hasan lighairih, HR. Ibnu Majah dan Baihaqi, lihat Shahihut Targhib wat Tarhib no. 567)
Marwan bin Musa


Kamis, 16 Februari 2012

Akhlak Islami

Share


Syari'at Islam adalah syari'at yang lengkap dan sempurna. Ia tidak hanya mengajarkan kepada manusia 'aqidah dan ibadah yang benar saja, bahkan ia mengajarkan pula akhlak yang mulia. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta'ala:

"Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat. Akan tetapi, sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (Al Baqarah: 177)

Pengajaran tentang 'aqidah ditunjukkan oleh firman Allah Ta'ala, "Akan tetapi, sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi."
Pengajaran tentang ibadah ditunjukkan oleh firman Allah Ta'ala, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat;…dst.
Sedangkan pengajaran tentang akhlak ditunjukkan oleh firman Allah Ta'ala, "Dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan…dst."

Ayat di atas menunjukkan bahwa orang yang baik di sisi Allah adalah orang yang hubungannya dengan Allah baik dan hubungannya dengan manusia pun baik. Tidaklah dinamakan orang yang baik di sisi Allah, jika dalam bergaul dengan manusia ia bergaul dengan cara yang baik, tetapi hubungannya dengan Allah tidak baik, atau hubungannya dengan Allah baik, tetapi akhlaknya terhadap manusia buruk. Dengan demikian, Aqidah dan ibadah memiliki hubungan yang erat dengan akhlak, oleh karena itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
"Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya." (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Hibban dan Hakim, Shahihul Jaami' no. 1230)

Hadits ini menunjukkan bahwa semakin tinggi iman seseorang, maka semakin baik pula akhlaknya, dan bahwa akhlak yang buruk menunjukkan kekurangan pada imannya. Demikian juga menunjukkan bahwa akhlak merupakan refleksi keimanan dan buahnya.


Beberapa Akhlak Islami


Berikut ini di antara akhlak yang diperintahkan oleh Islam:

1. Berlaku jujur apa adanya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا
“Hendaklah kamu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan akan membawa seseorang ke surga, dan jika seseorang selalu berlaku jujur serta memilih kejujuran sehingga akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur. " (HR. Bukhari-Muslim)

2. Menunaikan amanah.
Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…dst." (Terj. An NIsaa': 58)
Amanat artinya setiap yang dibebankan kepada manusia dan mereka diperintahkan memenuhinya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan hamba-hamba-Nya menunaikan amanat secara sempurna tanpa menguurangi. Termasuk ke dalam amanat adalah amanat beribadah (seperti shalat, zakat, puasa dsb.), amanat harta, amanat untuk dirahasiakan dsb. Contoh menunaikan amanat dalam hal harta adalah dengan menjaganya dan mengembalikan kepada pemiliknya secara utuh, sedangkan amanat dalam rahasia adalah dengan menyembunyikannya; tidak membukanya.

3. Menepati janji.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
"Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggung jawabannya." (Terj. Al Israa': 34)
Menyalahi janji adalah salah satu ciri orang munafik. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
Tanda orang munafik itu tiga; jika berbicara berdusta, jika berjanji menyalahi dan jika dipercaya khianat.” (HR. Bukhari-Muslim, dan dalam riwayat keduanya dari hadits Abdullah bin ‘Amr ada tambahan “Dan jika bertengkar berbuat jahat.”)

4. Tawadhu' (berendah diri).
Allah Azza wa Jalla berfirman:
"Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman." (Ter. Al Hijr: 88)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اَللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا, حَتَّى لَا يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ, وَلَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ
“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku untuk bertawadhu’, sehingga tidak ada lagi orang yang bersikap sombong dan angkuh terhadap yang lain.” (HR. Muslim)

5. Berbakti kepada orang tua.
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.---Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik…dst." (Terj. Luqman: 14-15)

6. Menyambung tali silaturrahim (hubungan kekeluargaan).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أََحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ فِي رِزْقِهِ, وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ, فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezkinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturrahim.” (HR. Bukhari)

7. Berlaku baik kepada tetangga

8. Memuliakan tamu.
Dalil berbuat baik kepada tetangga dan memuliakan tamu disebutkan dalam hadits berikut:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكِْرمْ ضَيْفَهُ
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berkata yang baik atau diam. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia muliakan tetangganya, dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari-Muslim)

9. Dermawan.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ تَعَالَى جَوَّادٌ يُحِبُّ الْجُوْدَ وَ يُحِبُّ مَعَالِيَ الْأَخْلاَقَ وَ يَكْرَهُ سَفْسَافَهَا
"Sesungguhnya Allah Ta'alah Maha Pemurah, Dia mencintai sifat pemurah (dermawan), Dia mencintai akhlak yang tinggi dan membenci akhlak yang rendah." (HR. Baihaqi dalam Syu'abul Iman, dan Abu Nu'aim dalam Al Hilyah, Shahihul Jaami' no. 1744)

10. Santun dan pemaaf.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
"Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?" (An Nuur: 22)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
“Sedekah tidaklah mengurangi harta. Allah tidaklah menambahkan hamba-Nya yang selalu memaafkan kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang bertawadhu’ karena Allah kecuali Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim)

11. Mendamaikan manusia.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَ الصَّلاَةِ وَ الصَّدَقَةِ ؟ إِصْلاَحُ ذَاتَ الْبَيْنِ فَإِنَّ فَسَادَ ذاَتَ الْبَيْنِ هِيَ الْحَالِقَةُ
"Maukah kamu aku beritahukan hal yang lebih utama dari derajat puasa, shalat dan sedekah (sunat)? Yaitu mendamaikan orang yang bermusuhan, karena merusak hubungan adalah yang memangkas (agama)." (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani no. 2595)

12. Malu.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
اَلْحَيَاءُ مِنْ اَلْإِيمَانِ
"Malu termasuk bagian dari iman." (HR. Bukhari-Muslim)
اَلْحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِخَيْرٍ
"Malu tidaklah mendatangkan selain kebaikan." (HR. Bukhari-Muslim)

13. Berkasih sayang.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
اِرْحَمُوْا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
"Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya yang ada di atas langit (Allah) akan menyayangimu." (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Hakim, Shahihul Jami' no. 3522)

14. Berlaku adil.
Allah Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan, memberi kepada kaum kerabat, dan melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran." (Terj. An Nahl: 90)

15. Menjaga kesucian diri (iffah).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
اِضْمَنُوْا لِيْ سِتَّا مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَضْمَنْ لَكُمُ الْجَنَّةَ اُصْدُقُوْا إِذَا حَدَّثْتُمْ وَ أَوْفُوْا إِذَا وَعَدْتُمْ وَ أَدُّوْا إِذَا ائْتُمِنْتُمْ وَ احْفَظُوْا فُرُوْجَكُمْ وَ غَضُّواْ أَبْصَارَكُمْ وَ كُفُّوْا أَيْدِيَكُمْ
"Berjanjilah untukku untuk melakukan enam perkara, niscaya aku akan menjanjikan kamu surga; berkatalah yang benar ketika kamu berbicara, penuhilah janji ketika kamu berjanji, tunaikanlah amanat ketika kamu diamanati, jagalah kehormatanmu, tundukkanlah pandanganmu dan tahanlah tanganmu (dari melakukan yang tidak dibolehkan secara syara')." (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Hakim dan Baihaqi dalam Asy Syu'ab, dan dihasankan oleh Al Albani dalam Shahihul Jaami' no. 1018).




Pengirim: Marwan bin Musa
Maraji’: Haadzaa huwal Islaam (Adil Asy Syiddiy dan Ahmad Al Mazyad), Taisirul Karimir Rahman (Syaikh As Sa'diy), Minhajul Muslim (Syaikh Abu Bakr Al Jazaa'iriy) dll.

 

Tukaran Link Yuk ???